Sabtu, 17 Mei 2008

BERTENTANGANKAH HAKIKAT DENGAN SYARIAT ?



Kalau ada dua ekor domba yang satu MENGHADAP ke TIMUR yang satu
MENGHADAP ke BARAT dan keduanya berada dalam sebuah lorong sempit full press
body hanya cukup lewat satu domba sedangkan keduanya ingin keluar dari
lorong itu dengan ADIL, SANTAI DAN NYAMAN, bagaimana caranya ? Jangan
teruskan tulisan ini ...berhentilah membaca barang satu menit...pikirkan
bagaimana jalan keluarnya... STOP MEMBACA...SATU MENIT MULAI DARI
SEKARANG ...!

AHA...semenit usai...bagaimana jawabannya ?...pasti ada yang
menjawab ya gantian ngalah dong, satunya keluar dulu...ya berbagi dong
sesak-sesakan dikit yang penting sama-sama dapat jalan...ya ditandukin
bareng dong biar lorong itu jebol terus dua domba itu terbebas dari
lorong gelap...yang lebih ekstrim... ya adu domba dong.. siapa kalah akan
didorong keluar.....betul semua jawaban itu...tapi telah melupakan kata
kunci ADIL, SANTAI DAN NYAMAN. Semua penuh pergumulan yang menyesakkan
dada...

Lalu bagaimana dong ? ya...tinggal lewat aja, gitu aja kok repot,
biasa aja gitu lho...nggak perlu tubrukan...Lho! nggak bisa gitu dong
bagaimanapun jalan keluarnya pasti ada dampak karena kedua domba itu saling
BERHADAPAN dan berada dalam satu lorong yang sempit !...

Nah ini dia...pertanyaannya adalah posisi domba itu meghadap ke timur
dan menghadap ke barat, bukan berhadap-hadapan...tetapi frame berfikir
kita sering terjebak jawaban saling berhadapan sehingga harus menjawab
dengan kengototan hati dan fikiran. Lalu bagaimana nasib domba itu tadi
?...sekali lagi ya tinggal lewat aja...wong satunya menghadap ke timur
satunya menghadap barat dengan posisi saling membelakangi, pantat
ketemu pantat bukan BERHADAPAN kepala vs kepala...he...he...he...menghadap
bukan berarti berhadap-hadapan.

Itu sih pertanyaan menjengkelkan bagi yang nggak terima jawaban
ini.....Lha emangnya kenapa .wong Allah saja tiba-tiba juga menciptakan kita
di dunia ini dengan kultur keyakinan barat dan timur tanpa kita bisa
memilih dimana kita dilahirkan, siapa orang tua kita. Persis seperti
domba itu tadi yang tiba-tiba berada di lorong sempit nan gelap. Tapi Allah
juga menjelaskan kemana saja wajah kita menghadap akan bertemu Allah,
karena semua milik Allah tak peduli timur barat. Maka yang tetap
berdzikir mengarahkan kesadaran pada Allah akan memperoleh ketenangan hidup.
Bagi yang tidak bertemu ya jelas stress seperti domba tadi karena
kerjaannya berhadap-hadapan adu kepala, adu domba. Walaupun yang disampaikan
adalah argumen paling logis, kenyataan paling faktual, post modern
quantum thinking, nahwu sharaf balaghah mantiq paling sempurna bahkan
ayat-ayat tersuci sekalipun....namanya adu kepala ya bisa pecah
berdarah-darah, nggak enaklah pokoknya....

Seperti yang dikhawatirkan Jibril bahwa jika diadakan manusia di bumi
nanti akan berdarah -darah tapi dibantah Allah, Aku luwih eruh rek !
Aku lebih tahu...Tetapi kalau kenyataannya manusia hidup di satu bumi ini
berdarah-darah apakah berarti Jibril mengungguli Allah dengan ilmu
"weruh sadurunge winarah" ? Berarti dengan realitas yang ada Allah kalah
argumen dan tesis dong dengan Jibril ? Bisa-bisa kita terjebak menuhankan
Jibril karena kesaktiannya...Persis seperti kita yang lagi terjebak
mempercayai ayat yang dikeluarkan Samuel Huntington bahwa akhirnya pada
puncak peradaban terjadi class of civilizations , perbenturan kebudayaan
antara barat dan timur yang diwakili masyarakat Islam plus Cina dengan
berbagai aliran keyakinannya versus barat dengan atribut dasar pijakan
berfikir logika para filsuf Yunani beserta perolehan kemajuan
tehnologinya.

Kita tidak lagi beriman kepada ayat Al Quran bahwa Allah
menciptakan segala sesuatu berpasangan agar saling mengenal dalam
artian saling berinteraksi, memahami, menyelami, tukar informasi
menggali ilmu, mengayomi, tabayyun klarifikasi dst... Bahkan ada sebagian
muslim menganggap hadits perbedaan adalah rahmat adalah hadits dhaif
karena kadung kebelet berhadap-hadapan.

Akhirnya apa yang kita dapat ? jangankan berhadap-hadapan dengan
orang yang kita cap "kafir", dengan sesama muslim saja persoalan
berhadapan-hadapan tak kunjung usai berabad-abad. Dan bangsa Indonesia sebagai
penduduk muslim terbanyak di dunia adalah pemegang penuh kendali apakah
kita akan selalu berbenturan berhadap-hadapan mengimani tesis Samuel
Huntington atau mulai membuka diri berkenalan, menggali ilmu, saling
sumbangsih kelapangan dada seperti diperintahkan Allah agar menjadi One
Earth, Our Earth, tempat yang nyaman dihuni, nggak sebatas negara madani
tetapi bumi yang madani...rukun agawe santoso kata orang jadoel.

Sejarah bangsa kita membuktikan bahwa sejak ratusan tahun lalu mulai
jaman raja-raja, Belanda, Jepang,orde baru sampai pasca reformasi
masyarakatnya selalu mengalami kekalahan dan kesialan hanya karena satu hal
yaitu mudah diadu domba dan disanjung. Intinya diciptakan iklim merasa
paling benar sendiri sampai tercipta pertikaian mulai dari yang otak
sampai peperangan fisik. Logika setannya ketika orang sedang bertikai
tentu tidak sempat mencangkul sawah, maka si "setan adu-adu " penjajah ini
merayu mesra...sini sawahmu aku yang ngurus, biar kalau menghasilkan
dananya dapat dibuat amunisi bertikai demi kelangsungan ini itu. Kita pun
ho oh karena telah terdoktrin bahwa ini demi perjuangan,filosofi hidup dan harga
diri...Dan karena namanya orang emosi bertikai lupa kalau punya kewajiban
ngurus sawah.

Maka tiba-tiba hak milik sawah itu dengan dibantu
seperangkat hukum modern telah berpindah tangan secara bertahap pada si setan
adu-adu. Di akhir kelelahan perang, kedua pihak yang bertikai
hanya bisa garuk-garuk kepala ngaplo tidak mampu melawan karena
amunisi habis untuk bertikai dengan saudara sendiri sedangkan cadangan
logisitik telah diambil penjajah.

Tentu saja merubah mental berhadap-hadapan pemicu adu domba ini tidak
mudah karena gen DNA budaya kita yang seperti itu telah ratusan tahun
meresap ke seluruh nadi.

Dalam kajian agama yang tak kalah sengit adalah masalah eksoterik dan
esoterik, syariat vs hakikat. Diam-diam saya sering terkena penyakit
komplikasi psikologis antara tertawa geli sambil mengelus dada ketika
berbincang dengan beberapa kenalan. Ketika berbicara dengan para pencari
hakikat sejati saya sedikit menyinggung soal syariat ehh...tiba-tiba
semua berubah mulai bahasa tubuh, gerak mata, gerak tangan, kecepatan
suara dan tinggi nada, desah nafasnya yang menyiratkan tidak terima bila
syariat lebih penting dari hakikat.

Begitu pula sebaliknya ketika berbicara maqasit syariah didepan teman-teman yang nyel total syariat salaf. Saya bisa-bisa disebut penyebar virus TBC ( Tahayul, Bid'ah n
Churafat-senjata ampuh menumpas lain aliran ). Kata orang lagian ngapain sih suka
bergerak dari ekstrim kiri melocat ke ekstrim kanan bolak-balik. Nggak
punya pendirian ya ?...muka dua ya...? padahal maksud saya sih
sederhana, ingin mempraktekkan ucapan rasul bahwa sebaik-baik umat yang
berada di tengah. Metode saya pribadi ya menggerakkan bandul dari kiri
ke kanan sampai bandul itu diam ajeg di tengah, lurus selurus sirathal
mustaqim. Tengah adalah pertemuan kiri dan kanan, barat dan timur, atas
dan bawah, manunggaling kawulo lan... sampeyan.

Seandainya kita memandang pelaku syariat dengan pejalan hakikat
memakai frame jawaban atas pertanyaan dua domba tadi, mungkin dalam sekejab
pemeluk Islam akan mampu mewujudkan rahmatan lil alamin, minimal dunia
yang madani. Biarkan, ikhlaskan dulu yang ke barat ya silahkan ke
barat, yang ke timur ya monggo ke timur karena semua mempunyai kelebihan
masing-masing. Toh pada titik perjalanan lurus, mereka yang berjalan ke
barat akan bertemu timur begitu pula sebaliknya karena bumi ini bundar.
Dalam pertemuan ini akan terjadi ledakan dahsyat rasa keilahian yang
tinggi.

Pertemuan ini menjadi sinergi hebat karena keduanya telah
melakukan perjalanan maksimal. Pertemuan ini tidak lagi menjadi ajang adu
domba-adu kepala akibat dari merasa saling berhadapan sehingga yang satu
merasa dihalangi yang lain dan berakibat sama-sama macet, sama-sama tidak
pernah melangkah tapi penuh intrik. Pertemuan ini menjadi rasa
kekangenan luar biasa karena sama-sama lama tak jumpa mak cik....elok
nian...

Dan pelaku hakikat dengan syariat cukup kita ibaratkan suami istri
yang lagi bengkerengan bertengkar menjalani hidup sesuai isi kepala
masing-masing namun dalam kejenuhan puncak mulai timbul rasa kangen lagi
yang memuncak pula...apa jadinya ? =\-*_)&^$@^% ( sensor )..tiba-tiba
lahirlah seorang bayi...Anak yang timbul dari perasaan tawadhu, saling
merendahkan hati, saling menghargai, memaafkan, mengasihi, mengayomi dan
selalu menjaga keutuhan keluarga karena sadar bahwa perceraian di benci
Allah. Lha kita lihat kalau orang sudah benci perangainya itu gimana ?
jangankan bertegur sapa melirikpun tak sudi apalagi membantu. Bayangkan
bila Allah membenci keterceraiberaian umat Islam akibat kekeraskepalaan
masing-masing pihak yang hoby berhadap-hadapan

Inilah warisan ketawadhuan perkawinan antara pelaku syariat dan
pejalan hakikat yang ditunggu-tunggu. Generasi insan kamil, anak yang
sholeh.

Ayo dong mom..dad..jangan beltengkal telus...ntal aku jadi yacim
piacu....lukun cayang-cayangan telus aja....pokoknya bial cip
deh...cip....cip....begitu halapan genelasi muclim belikutnya kepada kita-kita yang
macih cuka libut-libut ini....

Wassalam,

dody Ide

3 komentar:

  1. Tulisan yang membuat saya adem, Mas. Sudah kesana-kemari saya nyari-nyari blog sampeyan, baru ketemu sekarang. Saya termasuk salah seorang pengagum tulisan-tulisan Anda. Dan saya, dengan segala kerendah-hatian, mengajak Mas Dody convert blog ke Wordpress, sebab disana lebih banyak dan lebih mudah berinteraksi.

    Saya ingin ngobrol lagi lebih jauh. Dan saya mengajak pula Mas untuk sudi mampir sebentar ke blog saya, untuk sekedar silaturahmi,saling sharing, saling memberi saran, kritik-konstruktif, dan lain-lain.

    Salam,
    Aris Susanto
    http://esensi.wordpress.com

    BalasHapus
  2. AHA...semenit usai...bagaimana jawabannya ?
    --
    wah ... saya ngaku salah, tadi nggak sampe semenit langsung nyelonong aja *penasaran sih*

    dan akibatnya, saya jadi nggak sadar kalau menghadap ke barat dan ke timur itu bisa berarti juga berhadap-hadapan kepala, saya pikir simplenya tadi itu, "ya tinggal jalan aja toh, kan ndak tubrukan ini, wong jalan ke arahnya masing-masing"

    BalasHapus