Kamis, 05 Juni 2008

Puasa dan Evolusi Makanan


Memori Ramadhan...

Dulu sebelum kesadaran orang mengerti akan kegunaan kandungan vitamin, protein, karbohidrat dan sejenisnya, untuk urusan makanan yang terpenting adalah jumlah atau kuantitasnya. Kandungan gizi bukanlah pertimbangan utama. Ukuran pertama adalah kenyang dan nikmat. Bahkan demi mengejar rasa enak, suatu masakan harus di hangatkan berkali-kali berhari-hari. Makin sering dihangatkan makin top rasanya. Padahal di sisi lain kandungan nutrisi makin hilang.

Contoh paling gampang kita temui adalah gudeg dari Jogjakarta. Tapi siapa yang tidak ingin mencicipinya ? sampai - sampai beberapa teman menyebut makanan sejenis ini dengan plesetan bahasa Inggris sebagai sayur " don't yesterday favourite " alias " jangan wingi favorit". Jangan adalah kata bahasa Jawa yang berarti sayur, wingi berarti kemarin. Sayur bikinan kemarin memang masih menjadi favorit kuliner orang Indonesia, apalagi yang berbasis kuah santan. Makin kemarin makin mak nyus...

Sejalan dengan itu di sisi lain para dokter dan ahli gizi tak henti -hentinya menasehati dan memberi penyuluhan kesana kemari tentang pentingnya arti sebuah kualitas makanan daripada sekedar kuantitas banyaknya makanan yang masuk ke dalam perut.Tapi inilah manusia...kalau mulutnya tak bergerak barang sehari entah karena makanan atau sekedar ingin bercuap -cuap ngobrol, suasana akan terasa sangat hambar. Semua mengejar nikmatnya rasa di mulut. Masalah memasukkan (makanan ) atau mengeluarkan ( ngobrol ), itu hanya sekedar diversifikasi dari inti kenikmatan yang bersarang di mulut.

Jikalau suatu saat para ahli gizi sudah mampu memproduksi secara massal dan murah pil nutrisi pengganti makanan seperti yang di pakai para astronot, mungkin saja manusia tetap tak begitu peduli dan tetap saja membutuhkan sesuatu yang bisa di kunyah alias makanan yang berwujud dan menggugah rasa seperti soto, rawon, kare, hamburger, sop buntut, kolak, es doger dan saudara-saudaranya.

Maka untuk mengendalikan dan menyadarkan akan pentingnya nilai daripada jumlah dibutuhkanlah puasa. Bahkan sampai seakan-akan perintah puasa ini harus setiap hari, tidak menunggu hanya bulan Ramadahan. Lho ?...Coba saja gabungkan ajakan atau tauladan Rasulullah, bila puasa Senin Kamis digabung puasa Nabi Dawud As yang sehari makan sehari puasa, ditambah lagi puasa tiga hari di tengah bulan, juga puasa - puasa awal akhir bulan seperti Syawal, Rajab, nisfu sya'ban dll....Ah matilah kenikmatan wisata kuliner dunia ini...

Untung saja Allah Maha Penyayang dan Maha Tahu atas kemampuan dan tabiat manusia yang suka menawar hingga cukuplah Ramadhan saja yang diwajibkan. Ramadhan saja kadang kita juga bukan puasa melainkan hanya pindah jadwal makan dari siang ganti ke malam yang ujung -ujungnya hanya menambah rasa kangen dan nikmat terhadap makanan. Akibatnya otomatis bahan makanan makin mahal harganya karena para spekulan tahu bahwa Ramadhan bukanlah suasana prihatin melainkan suasana pelampiasan atas ketersiksaan siang hari. Air di tengah gurun sahara adalah prinsip dagang yang diberlakukan di bulan Ramadhan oleh para spekulan.

Memang sih dosa bila para pedagang menjadi spekulan pengeruk keuntungan berlebih. Tetapi dosa ini berawal dari kesalahan kita bersama dalam memaknai puasa sehingga hukum wajib Allah kalah dengan hukum wajib pasar. Memang rumit seakan di tengah keinginan menjalankan ibadah Ramadhan, malah kita lah tertuduh yang menyebabkan hukum Allah tentang kewajiban berpuasa terporak-porandakan oleh hukum pasar.

Puasa secara plesetan hikmah menjadi singkatan menge'pas'kan rasa, semacam fitting badan ketika membeli baju baru. Bila pakaian itu pas di badan maka enaklah kita melenggang beraktifitas. Tetapi dalam berpuasa, rasa apakah yang kita pas'kan ? rasanya sate, rasanya bakso, atau rasanya es teler ? atau rasa lapar ? atau rasa khusyuk ? atau rasanya berhadapan dengan ruh sendiri karena kita telah melepaskan segala rasa itu sendiri ?

Terlepas dari itu semua maksud berpuasa adalah mengendalikan nafsu yaitu segala kecenderungan ketertarikan terhadap isi bumi, entah itu ketertarikan materi maupun angan - angan aktifitas pikiran baik yang mewujud atau belum kemudian digantikan dengan makanan sesungguhnya yaitu makanan ruh. Lho lagi... ? apakah ruh butuh makan ? dalam hal ini bukan berati kita mengibaratkan ruh punya mulut lalu dengan lahapnya mengunyah sesuatu. Sama sekali bukan.

Persis seperti jasmani yang berasal dari saripati tanah yang selalu membutuhkan maintenance dari segala sesuatu yang muncul dari tanah untuk merawatnya dengan menggunakan mediator mulut ketika menghubungkan dua alam ( jasmani dan tanah ) menjadi satu kehendak hidup , demikian juga ruh membutuhkan asalnya untuk merawat eksistensinya agar menjadi satu kehendak hidup ( wahdatul wujud ). Lalu apakah asalnya ruh ? sudah jelas..."Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya ( sebagian ) ruh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".( Shaad : 72 ). Asal dari ruh adalah Allah. Metode makan ruh adalah puasa karena laku ini sebagai media penghubung antara dua kehendak yang seakan berlainan menjadi satu kehendak.

Tirakat yang satu ini sebenarnya adalah kecanggihan terselubung dari rentetan evolusi pola makan yang sedikit sekali diketahui orang karena telah terlanjur tertanam anggapan bahwa puasa adalah lawan kata dari makan. Padahal seharusnya puasa adalah tingkat evolusi tertinggi dari multikomplek nutrisi yang sangat lembut mudah dicerna dan berkualitas untuk memunculkan generasi insan kamil.

Seperti intro tulisan di atas, tahap pengetahuan dasar manusia atas makanan adalah banyaknya bentuk kasar yang masuk ke perut, kemudian anggapan ini terbantahkan bahwa sebenarnya bukan banyaknya bentuk kasar melainkan bentuk lembut yaitu kandungan gizi. Kemudian di era biotehnologi ini ternyata masih ada yang lebih lembut lagi semisal yang biasanya diformulasikan ke dalam cairan infus atau susu bayi seperti AA, DHA, Spyngomyelin dan sejenisnya.

Kalau kita tarik garis linear evolusi, ternyata ada kecenderungan keinginan manusia modern yang berfikir maju dan sadar akan hakikat makan selalu ingin mencari unsur yang lebih halus dan ringkas dari sebuah proses makan. Nah untuk itu wong namanya orang beriman, mari kita 'mentok' kan saja bahwa yang terhalus, terlembut adalah Allah sehingga ketika kita ingin hidup yang sangat berkualitas haruslah secara simultan mengkonsumsi Allah, dengan kata lain berpuasa terhadap sesuatu selain Allah alias dzikrullah .

Ketika seseorang telah mampu mencapai yang ter latief terlembut ini maka otomatis ia akan menemukan nutrisi energi daya hidup terbesar yaitu Al Hayyu alias yang Maha Hidup itu sendiri sehingga akhirnya ia akan mudah mencerna segala pesan dari cerita kehidupan . Sebab memang Adam As diciptakan untuk mengetahui pesan hakikat cerita hidup melalui proses 'a ba ta' nya. Dan tentu saja akhirnya di pertegas oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan wahyu pertama, Iqra. Hal inilah yang tidak dimiliki malaikat walau ia mampu melihat segala kejadian dan mampu bergerak dengan kecepatan cahaya ( Al Baqarah : 30 ).

Kembali lagi bahwa kita memerlukan nutrisi untuk hidup, jelasnya bahwa nutrisi sekedar wasilah penghantar hidup itu sendiri .Lalu apakah inti nutrisi itu ? .......Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup....( Al Anbiyaa : 30 ). Aha...ternyata basic dan simpel sekali...Air !. Air adalah komposisi Hidrogen dan Oksigen. Dan tak terasa sebenarnya kita ini berendam dalam air yang sangat halus sehingga tetap hidup...bukankah udara yang kita butuhkan agar tetap hidup adalah O2 sebagai bagian ikatan lembut dari komposisi air. ....bayangkan bila kita tidak mendapatkannya barang beberapa menit. Persis seperti ikan yang lompat dari akuarium.

Begitulah sebenarnya yang kuasa hidup itiu adalah airnya, bukan ikannya. Memang 'air' lah penyangga utama kehidupan namun kita begitu mengingkarinya oleh sebab dampak dari keprimitifan pola makan yang belum ber evolusi kearah yang lebih halus. Selama ini kita menganggap roti, keju, daging kambing dan kawan-kawan adalah penyangga utama gerak hidup. Sehingga ketika Allah hendak memajukan kualitas hidup kita dengan jalan puasa, kita malah bersiap-siap dengan sempurna mengumpulkan sapi, ayam, lele dan saudara setanah airnya menjadi penghuni setia perut kita di awal berbuka.

Kalau kita sadari dari proses ini, jelaslah bahwa bahan makanan empat sehat lima sempurna dalam proses tumbuh kembangnya tak akan berfungsi tanpa ada campur tangan air sebab inti nutrisi hidup berada pada air. Ini seharusnya menjadi penelitian mendasar sarjana pertanian. Mungkin juga para dokter bisa menjelaskan mengapa orang kuat tidak makan sebulan tetapi akan mati bila tidak minum air barang seminggu. Dan seandainya kita tingkatkan kualitas konsumsi air serta metode mengkonsumsinya dengan benar, mungkin manusia tidak lagi butuh makanan seperti saat ini. Sebab dalam air terlembut terdapat mineral yang sangat tinggi sekali dan tentunya sangat menopang sistem ketubuhan kita.

Lalu bagaimana caranya ? apakah mungkin ? ya mungkin saja...Allah itu menciptakan manusia dengan kemampuan dan kecanggihan ( sulthan ) yang luar biasa kok...kenapa kita harus membatasi diri ?

Sedikit cerita, Sosrokartono, kakak kandung dari RA Kartini adalah sebagian dari orang yang mampu menyadari air hidup ini sehingga bertahun-tahun tak pernah makan kecuali secuil cabe atau sesendok santan. Itupun bila diperlukan. Lalu apakah sehat ? sangat sehat kondisinya bahkan sering mengobati orang sakit dengan hanya bermodal huruf Alief ( huruf ini sebenarnya hanya perlambang lurusnya Tauhid ).

Nggak modern ? sangat modern karena prestasinya yang luar biasa. Hampir duapuluh bahasa dunia dikuasai dengan fasih, menjadi wartawan perang dunia pertama dari Indonesia, pelobi pendamai tingkat tinggi antara negara yang sedang berperang, penghasilannya sekitar $ 1.250 perbulan pada tahun 1920an, bergaul dengan seluruh strata dan komunitas internasional, sebagai salah satu guru dan penasehat presiden Soekarno dalam ketatanegaraan, mendirikan balai pengobatan gratis termasuk terbesar di jamannya yang dibiayai keringat sendiri tanpa meminta infaq kanan kiri , dll.

Kata lain dari mengkonsumsi air hidup yang kita jalani secara tak sadar adalah yang kita sebut bernafas. Angin yang kelihatannnya tak ada apa-apanya ini begitu setia keluar masuk tanpa kita perintah, tanpa pernah kita syukuri kehadirannya layaknya kita bersyukur ketika dapat parcel lebaran. Namun anugerah nafas ini keteraturan dan kejernihannya tergantung dari sang jiwa menyikapi hidup.

Semakin bergejolak jiwa atau pikiran, semakin tersengal-sengal atau tersendat nafas kita. Terus bagaimana cara mengkonsumsi air hidup ini dengan benar ? secara gampangnya persis ketika kita mengkonsumsi makanan sehari hari dengan prinsip dasar dikunyah yang benar, kalau makan nggak boleh sambil ngomong. Dua prinsip dasar ini dapat kita transformasikan ke dalam proses bernafas .

Dikunyah yang benar dalam arti mengendalikan nafas atau diperhatikan dengan benar gerak-geriknya jangan sampai tersengal tak beraturan. Setiap aktifitas kejiwaan entah itu berfikir, mencintai, marah, dapat lotre, sakit hati dan sejenisnya kalau kita perhatikan akan berdampak langsung terhadap gerak-gerik nafas. Bila dalam beraktifitas ini sampai mengacaukan irama nafas maka dampak ketidak stabilan nafas ini persis seperti dampak orang makan yang tidak di kunyah dengan benar. Walaupun empat sehat lima sempurna sebuah makanan tetapi bila proses mengunyahnya nggak beres akhirnya tetap merusak jeroan alias usus, ginjal, lambung dan sahabat-sahabatnya.

Demikian juga masalah makanan ruhani bila tidak dikunyah dengan benar alias disikapi dikunyah dengan emosional, sebaik apapun ajaran, sehebat apapun gurunya akhirnya hanya membuat scizophrenia alias kepribadian ganda. Merasa sudah empat sehat lima sempuran rukun iman dan Islam, tetapi kenyataannya nggak bisa legowo ( riya' ) menghadapi tantangan hidup.

Prinsip kedua, makan jangan sambil ngomong. Bila kita berolah ruhani alias sholat bolehkah ngomong ? batal kan ? tapi bagaimana kalau yang ngomong terus itu pikiran ? Coba kita sadari ketika pikiran berkelana waktu sholat pasti nafas sedikit terhambat, lalu....lalu....lalu pasti dada kita malah tambah sesak. Kita bersholat tiap hari tetapi malah melatih dada menjadi sesak. Apa akibatnya ? Namanya sesak ya pasti gerah. Namanya gerah ya pasti sumpeg. Namanya sumpeg pasti ya bawaannya ingin marah. Karena kita tidak tahu asal -usul marah itu, akhirnya kompensasi ketidak tahuan itu dengan tendang sana tendang sini. Hujat sana-hujat sini dengan membawa perasaan sudah beramal sebagai katarsis ketidaktahuan jati diri.

Untuk itulah kenapa hal ruhani yang membatalkan puasa adalah mencari cacat amalan orang lain, ngomongin orang. Sebab sebenarnya bila kita tidak mudah mencela orang, biasanya secara sunatullah rahasia dalam diri akan mulai terkuak secara perlahan tapi pasti. Hal ini dikarenakan sistem tubuh kita menjadi stabil dan otomatis pasokan oksigen ke dada dan otak kita lebih joss. Terkadang masalah utama sih batalnya hal ini karena tidak kelihatan secara fisik sehingga kita yang menjalani merasa tidak batal.

Akhirnya kata Rasulullah kita cuman dapat lapar doang yang tentu saja bila diterus -teruskan puasa itu hanya merusak organ tubuh kita. Kalau tak percaya coba sedikit eksperimen yang agak ngawur tapi demi pembuktian sebuah sabda. Sebelum berpuasa silahkan general check up kesehatan di klinik terdekat, lalu selama berpuasa silahkan menuruti hasrat ngrasani hujat sana hujat sini.

Bagi anda yang suka Islam pluralis silahkan hujat dan ngrasani sepuas-puasnya organisasi Islam garis keras begitu juga sebaliknya. Yang suka Islam kapitalis silahkan nggak terima dengan berbagai alasan hidup terhadap Islam tasawuf, begitu juga sebaliknya. Yang sudah merasa kaffah silahkan mencibir para mualaf dan Islam setengah hati. Setelah lebaran silahkan general check up lagi. Taruhan pasti tensi darah naik atau sangat drop, ginjal capek, limpa atau hati mengeras membuat daerah antara ulu hati sampai bagian bagian punggung dan ruas atas tidak nyaman untuk direbahkan. Aha ...tidak sesuai dengan Sabda nabi berpuasalah kamu maka kamu akan sehat.

Sebagai ibarat penegasan atas pelatihan makan jangan sambil ngomong itu tadi, dalam konteks puasa Rasulullah menganjurkan agar sepuluh malam terakhir di isi beritikaf di Masjid- berdiam diri jangan banyak omong mulut maupun pikiran agar menyadari kedirian bahwa Allah itu sebenarnya sangat mesra kepada kita semua. Kemudian apakah ultimate goal nya ? Tentu Lailatul qadar... bila diartikan secara sederhana adalah malam yang ditentukan.

Pertanyaannya, adakah malam yang tidak ditentukan ? adakah Allah lepas dari penentuan kehendak dan kuasaNya selain satu malam itu....

Bayangkan bila lailatul qadar itu terasa ada di setiap malam hidup kita ... Bisa saja akan selalu terjadi asalkan kita menyadari bahwa seluruh gerak hidup kita benar-benar ditentukan Allah persis seperti kiasan ikan dalam aquarium. Bukan ikan yang hidup tapi airnya...Bila itu sudah menjadi darah daging konsumsi nutrusi hidup maka....selamat berjumpa dengan seribu bulan yang menerangi dada dan otak kita, hidup yang lebih bermakna, hidup yang terang benderang tanpa menyilaukan diri atau orang lain, hidup dimana seakan dedaunan tak bergerak, burung menahan nafas terbangnya, malaikat sang cahaya rahmat menyelimuti hidup kita.

Semua tak lain karena diamnya gerak angin puting beliung dalam diri oleh sebab kita telah pada puncak konsumsi nutrisi terhalus....Allah

Itulah kenapa puasa disebut sebagai ibadah rahasia antara mahluk dengan Khaliknya karena pada tahap puasa yang sebenarnya akan terjadi perjumpaan kegembiraan ruh, setiap waktu, tanpa ada yang tahu....sebab bila masih ada yang bisa ngintip merasa tahu hubungan rahasia ini, yang ngintip itu tak lain adalah tabiat jiwa yang merasa bersih ( mutmainah )...Dan bila kita ingin lebih memaknai puasa, anak yatim dan fakir miskin kuncinya.

Pada merekalah sedikit-sedikitnya urusan dunia sehingga kita akan mudah menembus alam ruh. Sebab manusia adalah ruh yang menyublim menjadi bentuk materi. Makin sedikit kebutuhan materinya, makin tipis selubungnya. Dan sejatinya yatim piatu adalah Allah ta'ala karena tidak beribu dan berbapak, tidak beranak dan diperanakkan. Ternyata benar adanya kita disuruh memberi makan fakir miskin atau yatim piatu bila kita berhalangan puasa. Tak lain agar tetap konek dengan alam ruh.

Wa ba'du, mohon maaf bila dalam tulisan ini banyak daftar menu makanan. Harap jangan dibaca siang hari. Bukan maksud saya menggoda pembaca yang budiman tetapi karena pada waktu mengawali tulisan ini saya cuman puasa bedug setengah hari. Ini karena siang -siang otak sudah mulai mengkonsumsi berbagai macam hidangan nusantara...walaupun itu hanya makan sebatas angan alias makan angin berbentuk, alias angin kasar. Akibatnya saya kena denda juga ( atau berkah ?). Tiba-tiba saya didatangi nenek sebatang kara yang sudah lama bertahun-tahun mencari -cari rumah saya yang baru. Beliau datang jauh- jauh entah naik kendaraan apa, entah bertanya kepada siapa, entah dapat alamat dari mana, hanya ingin mencari keluarga saya dan sekedar minta sodaqoh barang sesuap nasi dan ongkos seperjalanan pulang. Saya pun hanya bisa menyodorkan sedikit rejeki sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya barang beberapa hari. Seperti biasa beliau selalu menyambut sodaqoh dengan ketulusan ucap doa untuk saya.

Hidup memang aneh, sanak saudara pun bukan, orang yang sudah pas-pasan kekuatan tubuhnya itu masih juga menyempatkan diri bingung sekedar mencari-cari dan mendoakan saya yang lusuh dan cuma sedikit amal ini...
Malu ah...

Wassalam , semoga bermanfaat

1 komentar: