Kamis, 05 Juni 2008

Syekh Siti Jenar Berpolitik Bersahabat dengan Wali Songo


Syekh Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah Allah tidak ada, Yang ada Syekh Siti Jenar

Sekelumit penggalan dialog di atas sangat populer dan menjadi puncak keributan masa itu. Percakapan ini dari abad ke abad selalu di shooting dalam frame tema ketauhidan sehingga mudah ditebak endingnya adalah sebuah telunjuk yang menuding dan menepuk dada tanpa ada pemaknaan lebih. Dengan kata lain semua cerita seputar Syekh Siti Jenar dan Wali Songo masih menjadi tontonan yang belum diteruskan menjadi tuntunan. Artinya kita masih seperti menonton film action yang selalu terjebak pemujaan atau penghinaan terhadap tokoh protagonis vs antagonis tanpa bisa melihat sebuah keutuhan akan sebuah hikmah tuntunan pesan cerita.

Entah kenapa saya tiba-tiba ingin sekedar menapaktilasi percakapan itu dan yang saya temukan anehnya bukan sebuah dialog ketauhidan melainkan percakapan " politik Tuhan " yang sebenarnya sampai saat ini masih sering di gunakan oleh orang yang gemar berebut kekuasaan atas nama Tuhan, di seluruh dunia, apapun agamanya. Saya pribadi bukan pemuja atau pembenci Syekh Siti Jenar tetapi saya harus mengakui bahwa ada makna politis rendah hati dan gentlemen dibalik kata - kata bombastis dan terlihat angkuh yang oleh sebagian besar orang sudah terlanjur dimaknai secara akidah ketauhidan.

Kalau kita melihat cerita ini sangat jelas bahwa dialog ini terjadi antara Syekh Siti Jenar dengan punggawa kerajaan yang berarti para punggawa itu adalah representasi dari kekuasaan. Dalam kalimat Syekh Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah adalah ungkapan makna atas sebuah seting bahwa SSJ adalah seorang tokoh berpengaruh waktu itu. Dalam hal ini pemanggilan SSJ adalah sebuah kepentingan legalisasi kekuasaan sehingga jawaban yang keluar adalah Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah- bila dijabarkan menjadi kalimat yang lebih mudah dipahami seolah SSJ berpesan ...

" Kamu jangan menggunakan pribadiku sebagai legalitas penstabil sistem kekuasaan yang sedang engkau bangun ! Sebab di padepokanku tak lebih hanya kuajarkan bagaimana manusia mendekatkan diri dengan Khalik sesuai kemampuan masing-masing. Dan bila mereka telah teguh bermiraj mengenal Tuhannya, langkah selanjutnya pasti saya kirim ke para guruku Walisongo untuk belajar hijrah masalah sosial kemasyarakatan. Sebab aku dulu juga berguru kepada mereka. Singkatnya aku hanya membahas Allah, yang ada di kajianku hanya spesialisasi Allah, jadi tenang aja... SSJ nggak ada pengaruhnya dengan legalitas kekuasaan dunia sebab yang ada hanya legalitas Allah. Lebih singkatnya SSJ nggak ada yang ada hanya Allah.

Masalah ada beberapa orang yang dulunya bekas penguasa yang sekarang tergusur kemudian menempel mendekatiku, itu urusan pribadinya. Pun kalau ada orang yang ngaji kesini sekedar mencari celah atau menjadikan diriku sebagai bahan api permusuhan, itu juga urusan dia dengan kesibukan dirinya sendiri. Tugasku hanya menjadi "tombo ati" untuk mengingatkan bahwa tiada kekuasaan yang kekal selain kekuasaan Allah apapun landasan ideologi yang dibangun atas kekuasaan itu." Nyata bahwasannya Allah menggilirkan kejayaan setiap kaum...memang begitulah adanya bahwa tiada kemapanan bersandar selain kepada Allah.

Di sinilah independensi seorang ( ulama ? ) sedang di uji. Sang ulama tidak mau mendatangi umara, tak ada cerita sumur sebagai mata air mendatangi timba.

Para punggawa pun dengan keterbatasan pemahaman melaporkan ungkapan Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah .

Oke kalau begitu panggil Allah kalau memang SSJ nggak Ada. ..Titah pun dilaksanakan. Namun sesampai dipadepokan tak kalah cerdiknya SSJ menjawab Allah tidak ada, Yang ada Syekh Siti Jenar. SSJ rupanya ingin menyampaikan pesan tersirat " Ngapain lo balik lagi pake bawa nama Allah segala....udahlah di sini cuman ada SSJ . Kamu ke sini sebenarnya kan cuma cari aku dan cari kesalahan - kesalahan toh ? bukan niat mencari Allah ?

Kalau urusan sama Allah langsung aja wong Allah itu lebih dekat dari urat leher. nggak harus kesini...di kerajaan juga bisa, di rumah bisa, di manapun bisa... kenapa sih panggil - panggil Allah kok harus nunggu restu ya tidaknya saya ? Emangnya saya ini atasan Allah ? Apa sih pengaruhku ? Emangnya aku ini pembesar yang setiap ngomong diamieni umat ? Wong saya ini cuman solitaire sebatang kara. Fakir, fana gitu.... Sebenarnya kamu sendiri kan juga bisa apalagi di tempatmu juga ada sahabat dan guruku, para Wali Songo....Mereka adalah orang yang siap mengajarimu bagaimana cara terbaik berhubungan dengan Tuhan dan berakhlak lembut kepada sesama manusia.

Ending cerita, Walisongo pun tak kalah canggih sehingga pada akhirnya para beliau mampu membujuk Syekh Siti Jenar. Para Walisongo seakan berkata lembut " Begini lho dik Siti...kita ini kan intinya mendidik umat dari menyembah benda mati atau paham materi seperti patung dan sejenisnya untuk diteruskan tanpa perantara ini itu menjadi langsung menyembah mengagungkan Yang Maha Hidup, Allah....

SSJ sedikit menyela..." Lha iya toh ...dinda kan udah benar mengajari begitu. Adapun dinda sering memakai jargon manunggaling kawula Gusti itu tak lebih untuk melepas kerak pemahaman mereka yang sangat berkarat tentang anggapan bahwa untuk menghadap Tuhan harus pakai wasilah rumus materi, makelar berhala atau rabi pendeta beserta segala fatwanya.Hal itu kan dilarang dalam kitab suci ! Wajar dong kalau dinda pakai kata-kata ekstrim semacam itu sebagai shock therapi sebab mereka sudah kadung turun temurun meyakini feodalisme ketuhanan yang berlapis-lapis seperti agama-agama terdahulu...biar bisa patas gitu lho....

Para Walisongo meneruskan percakapannya " Masalahnya bukan itu dik...tetapi orang yang mengaji di tempat sampeyan dan di tempat para wali ternyata saling berseberangan. Jangan sampai mereka mengatasnamakan diri kita dan agama untuk berebut urusan pamor dunia walaupun sesungguhnya saat ini aroma itu sudah sangat terasa.
SSJ " Lalu...?"
WS " Bagaimanapun demi syiarnya agama tauhid yang lagi merekah indah, dalam kasus ini mau tak mau harus ada yang dikorbankan, dan tentunya bukan mengorbankan umat...
SSJ " Berarti salah satu dari pemimpin mereka harus ada yang dikorbankan, entah yang di pihakku atau di pihak Wali songo ?
WS " Jangan...nanti kita malah dianggap berpihak kepada salah satu dari mereka. Malah rumit dan banyak makan korban padahal ini notobene urusan dunia. Lagipula tidak baik dampaknya bagi penyebaran agama ini....Jangan terjebak wacana mereka. Ingat, Innama alhayatu alddunya laaibun walahwun, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau. Nggak perlu menohok orang lain lah...santai aja.
SSJ " Trus..
WS " Ya terpaksa ente jadi korban...
SSJ " Lho kok ane ? nggak lagi bersenda gurau kan ?
WS " Duduk permasalahannya begini...mohon diingat sekali lagi, ini demi syiar, ini demi umat. Sekali lagi intinya gini, Raja yang berkuasa saat ini sangat patuh dan tunduk terhadap apa yang di ucapkan dewan wali. Apapun yang diomongkan para wali akan dilakukannya demi luasnya pengaruh. Memang kondisinya sama patuhnya seperti bekas para pembesar yang juga tunduk kepada dik Siti...Tetapi bagaimanapun yang sedang berkuasa tentunya mempunyai bawahan dan perangkat sosialisasi yang lebih solid untuk diarahkan sebagai alat syiar agama. Dik Siti harus ingat di tanah ini ada istilah sabdo pandito ratu, titah raja berkuasa penuh. Jadi bila para dewan wali berhasil mengendalikan sang raja, ya otomatis seluruh wilayah kekuasaannya ikut serta. Dan yang harus dipertimbangkan kondisi saat ini masih dalam masa peralihan dari pengaruh kekuasaan yang dulu sehingga bisa saja terjadi perlawanan. Untuk itulah dik Siti harus berkorban...

Mengapa ? sebab kemungkinan besar padepokan dik Siti dijadikan ajang konsolidasi dan ketiak berlindung untuk mengatur strategi perebutan kembali kekuasaan yang telah hilang. Bila itu terjadi jelas berbahaya sebab bila mereka melakukan kudeta dan menang, belum tentu mereka tunduk pada dewan wali agar mau melakukan syiar alias akan balik maning ke agama nenek moyang yang feodal birokratis. Pun belum tentu bila mereka telah berkuasa tetap mau ngaji sama dik Siti . Gagal lah kita semua....

Bila dik Siti yang berkorban maka jelas tak ada tempat untuk konsolidasi yang tentu saja berimbas tak akan ada pemberontakan, tak ada atas nama-atas nama, dan yang lebih penting umat tidak menjadi korban. Sebab kalau dik Siti cuman dipenjara, itu malah jadi bahan perlambang ketertindasan dan perlawanan sebab di situ ada figur kharismatik yang masih hidup. Mudah ditebak, akhirnya agama ini tak akan membawa maslahat. Kita hanya akan terjebak ikut isu-isu politik yang melelahkan sehingga tak sempat secara nyata berkeringat ngurusi umat selain hanya merasa sudah sibuk yang akhirnya cuman sekedar menang di awang - awang.

Masalah para kawula alit yang ngangsu kawruh di padepokan dik Siti tak usah dipikirkan sebab kami akan meneruskan pengajaran itu. Dan kami yakin mereka tak akan meributkan masalah ini sebab para wali yakin bahwa dik Siti telah mengajarkan pada mereka apa makna hidup sesungguhnya, bahwa dunia ini sekedar mampir ngombe, laaibun walahwun....sebab memang begitulah yang sering kami dengar di pasar-pasar, di warung-warung, dan di gardu tentang ajaran dik Siti yang begitu memikat mereka....

Untuk itulah kami para wali memohon kerelaan dik Siti untuk ikhlas meninggalkan dunia yang fana ini...sebab saat ini hanya inilah jalan satu-satunya.Toh dik Siti juga sudah paham bahwasannya alam langgeng lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana ini. Mohon dikerjakan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Sekali lagi ini demi berkembangnya syiar dan keselamatan umat...

Akhirnya setelah mendengar penjelasan itu, Syeh Siti Jenar dengan sigap berkata " Baiklah kalau begitu, demi syiar yang lebih luas dan damai, ane siap meninggalkan dunia ini. Mati sajroning urip sudah kujalani, sekarang urip sajroning mati adalah ajaran para sahabat dan guruku Wali songo yang harus ku tempuh saat ini. Aku tak mau tanah yang sedang kuajari bertauhid bersama walisongo kembali menjadi tanah yang rumit dalam bertuhan dan kembali menuhankan hukum materi dengan segala rumusan dewa yang begitu banyak dan ribet. Aku juga tak mau mengorbankan umat sebab aku bukan tipe pemimpin yang bermakmur sentosa di atas penderitaan umat.

Maka hari ini saksikanlah...Aku Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang alias Syekh Tanah Merah yang bermakna seorang ahli yang telah menguasai tanah yang merah membara penuh prahara...seorang yang telah mampu menundukkan segala merahnya nafsu yang muncul dari segala keindahan perut bumi...Aku akan kembali kepada Tuhanku dalam keadaan rela...Sesaat kemudian Syekh Siti Jenar bertafakur sejenak masuk kedalam diri sejati, lalu dengan sengaja mengoyak temali ghaib berwarna cemerlang untuk memutus hubungan dengan dunia laaibun wa lahwun menuju tirtamaya alias air kehidupan sejati....

Namun diluar sana...dasar politik....isu yang berkembang pun nggak karu-karuan. Lha wong yang mati orang berpengaruh ..ya jelas bikin geger. Semua saling mencari celah dan saling memanfaatkan. Adu domba pun tak terelakkan yang berakibat para santri SSJ yang sebenarnya ingin meneruskan ngaji ke wali songo malah terhadang oleh kendala isu politis yang mengakibatkan mereka membentuk koloni -koloni sendiri secara sembunyi - sembunyi.

Mereka terputus hubungan secara keterpaksaan politik dengan wali songo.Dan memang akhirnya yang kita dapati saat ini para pengikut Syekh Siti Jenar dalam melakukan ibadah banyak terkesan nyentrik nganeh-nganehi walaupun sebenarnya itu bukan terjadi atas sebuah niatan pasti. Seperti misalnya ada ajaran SSJ tentang sholat di atas daun atau pelepah pisang.

Tetapi jangan sampai fokus kita terpancing pada daun atau pisangnya sehingga kita menganggapnya syirik bid'ah dkk , tetapi lihatlah bahwa di situ ternyata tetap ada ajaran sholat. Adapun daun adalah sekedar perlambang sebuah kehidupan dan tempat keluar masuknya sirkulasi nafas pohon, maka dalam sholat hendaklah selalu tertuju kepada Yang Maha Hidup dan Maha Menguasai Gerak Nafas. Sedangkan pelepah pisang adalah perwakilan pohon pisang dimana segala bagiannya selalu berguna bagi manusia. Pelajaran ini memaknakan orang yang telah benar sholatnya pasti menjadi orang yang murah hati, ringan tangan, tidak mudah mencela dan berakhlak luhur.

Di lain hal juga sudah seharusnya para pengikut SSJ tidak hanya berhenti oleh gambaran " syariat laku " sholat di atas daun atau beralas pelepah pisang melainkan memaknai lebih dalam dan disesuaikan dengan kondisi jaman agar tidak terjadi salah paham yang berkepanjangan. Misalnya menindaklanjuti shalat versi sujud di atas daun beralas pelepas pisang dengan cara menjaga kelestarian hutan tempat tumbuh kembangnya dedaunan dan pisang yang saat ini lagi dibabati para cukong dimana disitu terdapat paru-paru bumi sebagai cadangan gerak hidup nafas kita.

Sudah seharusnya para penghayat SSJ secara sistemik meluruskan kondisi bahwa hutan-hutan itu harus kembali menjadi hutan lindung dalam arti sesungguhnya yaitu sebagai pelindung ekosistem dan dan AC bumi sebagai peredam pemanasan global, bukan hutan yang melindungi perut segelintir orang. Hal ini akan sesuai dengan ayat Quran bahwasanya sholat itu berdampak keberanian mencegah kemungkaran.

Lepas dari ajaran itu sebenarnya sih sholat di atas daun yang notobene made in Allah ini jelas lebih baik daripada sholat di atas sajadah made in negara berpaham komunis yang saat ini paling memonopoli pasar peredaran peralatan sholat di seluruh dunia. Sebab kita tak tahu persis kandungan kehalalan bahan dan proses pembuatannya, itikad jual beli lobi monopolinya, sistem penghargaan keringat buruhnya, atau keuntungan sahamnya yang ternyata untuk menggilas pemakai sajadah itu sendiri dan banyak hal abu-abu di balik itu.

Di balik sejarah yang sudah terlanjur mem-plot kejadian ini sebagai sebuah konflik ketuhanan, yang sebenarnya harus diakui bahwa proses islamisasi tanah Jawa atas kejadian ini adalah proses Islamisasi yang paling santun setelah masa rasulullah, mengakar kaya makna, sedikit korban dan jelas paling banyak menghasilkan pengikut. Hal ini karena adanya kemengalahan pemimpin, bukan keterkalahan umat....
Memang tipis bedanya dua hal ini namun sebenarnya mudah di deteksi ...tapi apa parameternya ?

Yaitu bila ulama tidak lagi punya wibawa di depan umara karena ulama lebih senang sowan ke penggedhe daripada turun gunung. Tak lain hanya demi mendapatkan cipratan pamor dan insentif...
Hal ini bagaikan sumur yang mencari timba...pasti air umat kececeran tak terurusi....
Kata orang Jawa " kebo nyusu gudhel "
Untuk itu memang seharusnya kita membiasakan menempatkan derajat penghormatan kepada ulama lebih tinggi dari umara walaupun di tataran praktis harus tetap patuh pada umara. Semua itu harus dilakukan semata-mata agar kehidupan tidak kacau. Karena ulama lah pemegang rahasia hidup.

Namun sebelumnya kita juga harus mencari ulama sejati pemimpin umat itu. Tapi siapakah mereka ? Carilah mereka yang paling di garda depan getol menemani orang tertindas, tereliminasi dan teryatimkan secara struktur kemasyarakatan, tidak mencari nama baik diri, dan siap dianggap tidak populer. Merekalah yang berhak disebut warosatul anbiya, pewaris para nabi, mensifati peran nabi...." Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu.............( At Taubah 128 ).

Merekalah orang yang telah siap lahir batin duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tapi di mana mereka ? coba saja cari di Meruya, Porong Sidoarjo, Jatinangor, Kali code gunung kidul, gang-gang sempit yang tak terjamah da'i selebritis, bantaran sungai atau tempat-tempat sejenis. Personifikasikan mereka seperti ketika rasulullah meretas perjuangan seorang diri membela kaum dhuafa di tengah masyarakat jahil yang saling berebut kuasa berhala ekonomi, berebut pamor menjadi pujangga penyair intelektual dan bendera-bendera partai kesukuan.

Kalau saya dan anda tidak menemukan mereka di tempat-tempat itu, mari berbaik sangka bahwa ternyata negara kita sudah berada pada tahap tinggal landas terkabulnya doa para ulama yaitu negara madani baldatun toyyibatun warobbun ghofur sehingga tak ada yang perlu dibela selain kesenangan-kesenangan yang bersarang di otak dan hati kita. Anggap saja kejadian - kejadian di tempat itu cuma karangan televisi dan koran agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah, kenikmatan diskusi, dan selera makan tidur kita.

Seperti yang saya maksudkan, tulisan ini sekedar menshoot dari angel lain bahwa Wali Songo dan Syeh Siti Jenar adalah para lakon yang ditakuti penguasa namun ter fetakompli saling berhadap-hadapan demi menyelamatkan umat yang lagi disandera berhala kekuasaan.

Mungkinkah kasus Al Hallaj atau Ibn Arabi juga begitu ? Wallahualam. Di balik itu semua ada baiknya kita belajar dari sejarah keterpecahan umat Islam akibat dari mengatas namakan Tuhan dan Al Quran. Karena memang inilah jargon paling efektif sebagai alat bela diri paling ampuh untuk mempertahankan sesuatau yang dianggap berharga, mulai jaman nabi Adam sampai entah kapan.

Sebab apa-apa yang keluar dari mulut seorang anak Adam ternyata latar belakangnya sangat komplek. Bisa karena urusan harga diri pribadi, perut, perebutan klan atau trah, aktualisasi eksistensi diri, kedudukan, feodalisme strata, ekonomi, almamater, cari pengikut, kedekatan hubungan, fanatisme partai atau golongan, ketersaingan intelektual, kecemburuan sosial, karir, jaim, caper dan tentu saja dibalik itu tetap ada penjaga gawang yang selalu setia tulus ikhlas sepi ing pamrih rame ing gawe menangkapi bola-bola liar agar gawang agama tidak kebobolan karena para pemain lagi asyik masyuk berebut menjadi penyerang garda depan demi memperoleh penghargaan hingga lupa pertahanan....

Untuk itu sudah saatnya kita menjadikan akhlak sebagai parameter utama berislam, bukannya malah terus mempanglimakan fikih dan teologi yang terbukti ratusan tahun malah memecah belah dan gagal memajukan umat. Sebab pokok ajaran Islam ( salam ) mengerucut sederhana pada Ayat Quran bahwa Muhammad di utus ebagai pembawa rahmat ( kasih sayang ) dan perkataan rasulullah " Aku di utus tak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak ". Lha kalau kita sudah bisa mengenal atau berhubungan langsung dengan Allah tetapi masih keras dengan manusia lalu apa bedanya dengan iblis yang tidak mau bertawadhu sujud menghargai manusia ? sebab iblis juga berdialog berhadapan langsung dengan Allah.

Juga kalau kita sudah bisa berfikih ria secara ndakik bin njlimet tapi masih suka agresif menindas orang yang tidak sejalan lalu apa bedanya dengan mental para orientalis yang agresif menjajah dan mencari - cari kelemahan Islam ? sebab mereka saat ini juga lebih lihai bahkan lebih lihai dari kyai dalam meneliti kitab kuning dan sumber- sumber tarikh Islam karena kekuatan informasi, modal dan ekspansinya.

Pun kalau kita ini telah menguasai teologi secara pembelajaran sistematis sampai mampu menjadi konseptor idea alias filsuf tetapi masih suka meremehkan kalimat-kalimat sederhana berketuhanan, terus apa bedanya dengan orang yang telah mencapai gelar S2 atau S3 program teologia di Malang di mana di daerah saya ini terdapat banyak lembaga-lembaga tinggi pembelajaran semacam itu yang bertaraf internasional dan terbesar di Asia.

Sebab di perpustakaannya berderet lengkap konsep agama - agama di seluruh dunia dan mereka wajib membacanya bahkan ada divisi menghapal Al Quran segala. Tetapi anehnya karena terbiasa rumitnya berfilsafat, mereka malah kesulitan memahami ayat Al Quran yang mukhamaat alias gamblang alias saklek alias sederhana, Lakum diinukum waliya diini sehingga hidupnya selalu memakai style memaksa - maksa dan membantah orang yang telah mempunyai keyakinan yang pasti dengan cara menyodor-nyodori apa yang pernah mereka pelajari dengan berbagai argumen yang kelihatannya sangat masuk akal.

Dan ternyata ungkapan Syech Siti Jenar tidak ada, Yang ada Allah dan Allah tidak ada, Yang ada Syech Siti Jenar hanya karena malasnya SSJ ngomong panjang lebar sebab SSJ sudah hafal betul tabiat kekuasaan. Dialognya hanya sekedar mengajarkan pesan bahwa batas ulama dengan umara harus jelas. Bahwa seorang ulama harus independen dan siap berkorban demi keselamatan umatnya.

Sebab sang ulama sejati sebenarnya mempunyai kekuatan tak terbatas melebihi institusi apapun. Mengapa ? karena mereka adalah orang yang begitu menyadari kedekatannya dengan Sang Penggengggam Segala Gerak Hidup, Al Hayyu, Allah sebagai pusat kehidupan, kekuatan dan kekuasaan sehingga ia begitu memandang kecil kekuatan kekuasaan selain Allah. Tak ada settik rasa takut di dadanya...

Dan seperti biasa, di balik tulisan yang kelihatannya menggugat ini, saya sendiri ternyata masih sebagai kapasitas seorang makmum yang sok sibuk di shaf paling belakang dekat pintu masjid menjadi penerima tamu Allah sambil mempersilahkan masuk dan menanyakan asalnya darimana terus tujuannya mau kemana....pak, bu, mas, dik, om, tante....

Jadi, jangan terlalu di besar-besarkan gugatan model warung kopi ini....

Wassalam, semoga bermanfaat

5 komentar:

  1. Semua berdasarkan dugaan yah??

    "Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran." (Qs. An-Najm[53]:28)

    BalasHapus
  2. terserah yang menduga - duga...believe or not...

    BalasHapus
  3. Segala puji hanya bagi Allah. Tambahan wawasan bagi aku untuk bekal hidup di dunia dan akhirat. Amin.

    BalasHapus
  4. wah bagus sekali wawasan nya. aku setuju 5 jempol buat sampeyan, tq.

    BalasHapus
  5. hehe mau juga la om jadi makmum di shof paling belakang..;) ikutaaan hehehe

    BalasHapus