Jumat, 06 Maret 2009

Budaya dan Jembatan Ketauhidan ll


Waduh, pertama saya bukan sosiolog, anthropolog, teolog dan log log yang lain yang paham benar tentang seluk beluk Jawa.

Apa yg saya ungkapkan hanya sekedar sesuatu yg saya temui, kemudian saya tarik kepada keyakinan dasar saya, Islam. Bahwa sesungguhnya setiap manusia siapapun dia, pastilah punya ruh sebagai bagian dari" cipratan" Allah ( Al Hijr 29 ). Tentu dengan fakta itu, pastilah semua orang punya fitrah dasar ingin kembali kepada Allah ( innalillahi...), cepat atau ( ter ) lambat, dengan berbagai cara.

Yang sering kita salah kaprahi ketika orang mendengar kata kebatinan, pasti selalu berfikir stereotype syak wasangka. Padahal kalau disadari, kira2 kalau badan fisik yang gagah ini bila ditinggal pergi yang batin, sanggupkah melaksanakan aktifitas seperti makan, berbicara ataupun berfikir? Contoh mudahnya ya orang mati, bathinnya sudah hilang walaupun organ tubuh zahirnya termasuk otak yang kita banggakan ini masih utuh.

Kebatinan itu kalau diistilahkan kosa kata lain ya yang sering kita sebut dengan keruhanian. Batin = ruhani. Jadi mudahnya kalau sehabis subuhan lalu kita nyetel tv ada acara siraman ruhani bersama ustadz A, sebenarnya istilah lainnya bisa diganti dengan siraman kebatinan.

Masalahnya budaya kita masih generasi budaya lisan. Budaya nyaman di telinga. Lebih menuhankan hafalan permainan susunan huruf daripada mengasah kejelian menangkap makna.

Persis kalau kita lihat bila di tv ada ajaran kasih sesama, pasti memori kita langsung sinis menuju oh...itu pasti Nasrani. Padahal Islam itu jelas ajaran rahmatan lil 'alamin yang bila diIndonesiakan berarti kasih seluruh semesta...artinya lebih luas, lebih dari sekedar kasih sesama. Tambah bingung lagi kalau sekarang salah satu tv baru ada acara aliyah ke tanah suci, yang ternyata acara orang Nasrani ke Yerussalem. Makin curiga dan masamlah muka kita...

Kasihan lagi kalau ada jamaah haji asal Indonesia tak bisa pulang ke maktab gara-gara tiap bis yang lewat, kondekturnya selalu bilang "Haram...Haram...Haram...". Ia menyangka bis ini nggak boleh dinaiki dan disentuh. Bikin takut dan bingung. Padahal maksud sang kondektur hanyalah sekedar menawari penumpang yang melewati rute Masjidil Haram

**

Kalau saya sendiri, ketika menerima suatu berita atau isu baru, biasanya hanya melakukan dua langkah. Pertama mencari sumber terdekat dan menggali dengan baik- baik sampai pada titik puncak ilmu yang saya sanggup atau titik kondisi diri ini tidak lagi emosional,-tergantung mana yang duluan nyampe pada keadaan itu. Karena isu itu bukanlah tuhan dimana saya harus menumpahkan segalanya.

Kedua, kalau tidak bisa, ya harus diikhlaskan supaya dada tak sesak, kepala tak panas. Soalnya obat sakit kepala dan sakit jantung tambah mahal....

Bagi saya hidup ini tugasnya hanya dua, dan memang fitrahnya kesitu. Pertama, yang menugaskan diri mencari fadilah karunia di muka bumi. Tentu saja pasti urusannya harus berbaik-baik dengan sesama manusia supaya sukses. Kedua, menghujamkan rukun iman terakhir akan keberanian diri mengakui sebuah konsep takdir baik-buruk, yang terjadi dan belum sesuai lauhil mahfuz. Tentu urusannya adalah ketajaman hati menguaknya, lalu mengeikhlaskan pengetahuan hati itu kepada Allah.

Di wilayah ini saya hanya terus belajar untuk tidak mau menjadi syetan yang menyifati kondisi panas dampak akibat tidak bisa memegang teguh dua konsep di atas. Dan proses belajar itu masih saya lakukan sampai detik ini. Masalah hasil, wallahua'lam.

Jadi kalau kita ingin tahu kejawen atau kebatinan dan sejenisnya, alangkah baiknya langsung bertanya saja pada sumbernya. Terutama sumber hidupnya alias manusia pakar. Sebab kalau hanya sekedar buku, masih jauh dan sangat bias. Wong setiap launching buku saja, pastilah narasumber dihadirkan untuk mengetahui maksud sebuah tulisan. Itupun masih terjadi sebuah diskusi perdebatan yang sering berakhir miss persepsi.

Apalagi ini masalah ajaran turun temurun sudah terlalu banyak pro kontra dan simpangsiur isu ....Nggak mungkin pahamlah kalau kita hanya modal katanya. Entah katanya yang bersumber dari gunjingan ataupun buku sekalipun

Masalahnya, kebiasaan kita ini kalau tidak setuju dengan sesuatu, bukannya bertatap muka dengan narasumber dan berbicara baik-baik sesuai kaidah akhlak Islam. Kita lebih senang bikin statement bantahan2 yang disebar ke berbagai media dan sejenisnya. Padahal inilah metode gunjingan modern yang tak pernah mendidik manusia menjadi orang yang lapang dada, mukhlis dan berjiwa ksatria.

Kalau saja kita langsung menemui narasumber yang kita anggap melenceng, kita ingatkan baik2, pastilah tanpa susah2 pengikutnya yang jutaan akan ikut tobat juga. Toh model religiusitas apapun rata2 masih bersistem hirarki kepangkatan satu komando keimaman, yang artinya bila pucuk pimpinan sujud, cepat atau lambat shaf bagian belakang akan ikut sujud.

Kembali lagi, setelah kita bertemu pakar, Baru kita cari nilai batin ruhaninya, sinkron apa tidak dengan tujuan Quran. bukan sekedar menyama-nyamakan taraf tulisan Quran, sebab sudah jelas dari susunan huruf arab dengan ho no co ro ko saja sudah lain bentuknya.

Nah dari sini akan ketemulah tugas kaidah fiqih, melestarikan yang baik dan membuang yang obsolet. Sehingga sempurnalah sebuah ajaran, sesuai kehendak akhir Islam itu sendiri. Persis seperti Nabi melakukan puasa rajab yang notobene sebenarnya adat kebiasaan Quraisy. Tapi karena oke, ya udah diteruskan dijadikan sunah.

Di sinilah nabi tampak menghormati generasi para pendahulunya, generasi pencari Tuhan. Beliau tidak memutus sejarah dan menafikan. Untuk itu pula ada cerita dalam Quran tentang nabi2 dan kitab sucinya diakui oleh Rasulullah sebagai sebuah kebenaran yang telah dan pernah terjadi.

Sesuai dengan surat Al Isra:36 Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

harusnya dalam segala hal, bila ingin menyelidik sesuatu, ada baiknya seperti profesionalitas dunia barat saat ini. Sebuah contoh, Komposer klasik abad 19 Debussy, Orang Prancis yang datang ke Surakarta belajar gamelan, mengkomparasikan tangga nada dan harmoni-komposisi diatonis vs titilaras pelog slendro.

Akhirnya Debussy mengacungkan jempol dan menganggap keadiluhungan estetika musik timur. Kenapa bisa terjadi ? karena ia langsung datang ke narasumber, banyak belajar dan bertanya ( bukan banyak menentang, membentur-benturkan perbedaan, berprasangka dan mendebat ).

Baru setelah parameter penyerapan ilmunya lengkap, ia dengan objektifitas bisa mengkomparasi dan memberi komentar yang gentleman.

Dan uniknya ia tidak juga harus berpindah menjadi komposer karawitan atau kebakaran jenggot karena musik klasik kalah sakral. Namanya bahkan bertambah besar karena kelapangan dadanya mengakui sebuah perbedaan. Ia tetaplah ia. Gajah masuk kandang macan, setelah keluar kandang tidaklah berubah jadi macan. Lakum dienukum waliadien.

Ia telah mengetahui garis hidup yang telah dijalaninya sejak kecil. Tanpa khawatir berubah menjadi yang lain. Ia mempelajari apa yang belum diketahui dengan cara yang serius. Tanpa ada ketakutan kehilangan jatidiri dan dipermalukan. Tanpa narcis-sinis kepada pihak lain. Objektif.

Itulah kenapa daerah barat lebih sukses. Dan kita yang di timur hanya memupuk kecemburuan perolehan dunia barat dengan berbagai dalil yang menumpuk. Di sisi lain, yang minder dan gagap atas kemajuan barat mencoba mengecat rambutnya jadi coklat supaya kelihatan bule. He he...bahkan kaum intelektual malah mengecat otaknya supaya kosa katanya selalu terlihat berkamus bule. Entah etos kerjanya...

Padahal barat dan timur teteplah milik Allah ( Al Baqarah 115 ). Sama sekali bukan milik orang barat atau orang timur. He..he..yang kita lupa, jaman keemasan Islam kan ada di Cordoba Spanyol Andalusia yang notobene Barat...Imam Bukhari juga dari Rusia...

Budaya penelisikan objektif inilah yang hilang dan belum ditumbuhkembangkan lagi di Indonesia. Kita masih senang pada isu yang dikumpulkan menjadi bundelan buku, lalu buku itu dibahas, kemudian hasil bahasan itu menjadi isu baru dan dibukukan lagi dan seterusnya berulang-ulang seperti jejaring Multi Level Marketing.

Dan kita pun mencicipi ilmu itu pada piramida yang terakhir dan terbawah dengan perasaan berat di hati namun tinggi di prasangka angan-angan perolehan. Jadilah kita akar rumput yang mudah terbakar.

Masalah mentalnya sih, urusan kejawen itu kan urusan keyakinan. Jadi ya high sensitive...Kalau teman kita pakai blangkon, dengan mudahnya kita langsung memvonis kejawen dan menghubungkan dengan konsep religiusitas. Kita tak pernah punya ilmu untuk menghubungkan dengan konsep jatidiri kebudayaan. Padahal kedepannya hal inilah yang menjadi identitas manusia global dan berharga mahal.

Ya mbok kalau cara berfikir kita tetap begini, sekalian saja orang yang berjas dasi ataupun jeans t-shirt kita anggap kafir karena pakaian gini adalah produk identitas " non muslim". Kita sebut saja mereka kemlondho...Lalu kita cukupkan saja berpakaian muslim seperti gamis. Eit...tunggu dulu...kira-kira Abu Jahal dan Abu Lahab pakai gamis apa jas dasi ya ?....

Coba saja kalau semua ini bukan urusan kotak keyakinan, pasti kita sangat teledor walaupun sebenarnya daya rusaknya sangat ditentang Quran.

Contoh, sebelumnya maaf yang pro atau kontra rokok. Nuwun sewu, karena rokok bagi saya bukan suatu yang harus ada atau tidak ada. Rokok bukan tuhan yang harus saya masukkan hati dan jadi bahasan utama yang selalu saya wiridkan secara akbar.

Saya sekedar menyampaikan ide ketololan dalam diri ini:

Kira -kira kalau ada dua ruangan 5x5 meter, yang satu isinya enam perokok yang menyalakan rokok terus menerus sambil ngobrol satu jam. Ruangan satunya ada enam orang duduk saja sambil ngobrol santai, tapi di situ ada mobil sedang menyala selama satu jam juga. Dan kedua ruangan itu sama-sama tertutup. Kira-kira duluan mana ya yang modar ?

Seberapa jauh daya jangkau polusi antara rokok vs asap kendaraan di wilayah publik ? Kira-kira asap apakah gerangan yang membuat lapisan ozon ini berlubang dan memanaskan suhu bumi ? asap rokokkah atau asap mesin2 industri ? Atau rumah kaca yang suejuuk tanpa asap itu...Kalau kita carikan ayat tentang larangan membuat kerusakan di bumi, asap apakah yang terkena pasal duluan ? Aktifitas apakah gerangan yang membuat paru-paru bumi berlubang yang membuat nafas sesak dan akhirnya menciptakan sakaratul maut massal secara perlahan-lahan tapi pasti ?

Kalau sepengetahuan saya, jelas asap mesin2 daya bunuhnya lebih hebat. Tapi karena kita ikut menikmati pergumulan hasil industrinya, ya mental kita jadinya kayak orang yang kecipratan korupsi. Diam dan baik baik saja sambil mencari celah pembenaran.

he...he..tapi yang paling parah tentu saja industri rokok. Polusi mesin industrinya membunuh, produknya juga membunuh.

Tapi siapa sih yang berani menfatwa bahwa acara yang disponsori rokok haram hukumnya ? sebab kalau bulan ramadhan kenyataannya banyak juga lho acara tv islami yang disupport rokok....

Bisa-bisa juga para olahragawan tak jadi sehat karena kurang gizi. Karena selama ini ia mencari makan dari sponsor rokok.

Yang rada seru, bila masyarakat grassroot maniak bola yang selama ini melampiaskan kekesalan hidup dengan teriak-teriak di pinggir lapangan, ehh tiba2 tak ada lagi pertandingan bola karena tak ada dana sponsor.

Kekhawatiran pribadi, akan kemanakah kesumpekan itu ditumpahkan ? jangan - jangan mereka berbondong-bondong bak air bah ke tempat2 para wakil rakyat alias wakil umat....

Lalu kalau mereka datang, apakah kita bisa mengangkat kedhuafaan mereka sebab dari kita mengeluarkan sebuah fatwa ? Karena seorang mufti atau pembuat fatwa haruslah seseorang yang kapabilitas dan aura kewibawaannya jauh melebihi tiga pilar pelaku negara, yaitu eksekutif, yudikatif dan legeslatif.

Ini karena ulama derajatnya lebih tinggi dari umara. Entah itu dilihat dari sisi derajat keilmuan, kharisma kepribadian, kecukupan harta, kedekatan riil dengan masyarakat luas, kejelian batin, daya kasih sayang, negosiator ulung, problem solver, dan sebaginya dan sebagainya...yang intinya masyarakat bisa melihat beliau sebagai figur orang tua yang dekat, cerdas, berwibawa dan layak dikagumi.

Sehingga dalam wilayah ini, karena orang pada hormat dan mengenal pribadi beliau, otomatis tak ada lagi paksaan-paksaan yang bikin kuduk merinding. Semua sudah ikhlas menaati segala anjuran alias fatwanya.

Dan tentu saja ciri sosok orang tua yang bijak, sebelum melarang dan menyuruh, selain bisa menjadi teladan, syarat lain haruslah punya kemampuan mencukupi segala kebutuhan dan menjamin keselamatan si anak terlebih dulu. Ini baru ortu yang top markotob...

Kesimpulannya, daya juang ulama atau mufti harus lebih tinggi dari sekedar umara. Kalau dalam undang - undang dasar kita disebutkan fakir miskin dan anak yatim dipelihara negara, maka ulama harus plus janda, plus buruh ( bahasa budak yang diperhalus ), plus pedagang kaki lima dan plus plus yang masih banyak lagi.

Tentunya semua itu sebagai bentuk pertanggungjawaban yang amat besar bagi seseorang yang sudah berani menisbatkan diri atau ditahbiskan orang dengan gelar ulama ataupun ustadz.

walah-walah kok jadi ngalor ngidul ngobrolnya...nanti tulisannya jadi blunder panjang lagi... wah daripada dimarahi orang-orang, tak bobok dulu...dah malem...anggap tulisan ini tak pernah ada...

Wassalam, tetep makmum kelas ekonomi

Dody Ide

2 komentar:

  1. Karena seorang mufti atau pembuat fatwa haruslah seseorang yang kapabilitas dan aura kewibawaannya jauh melebihi tiga pilar pelaku negara, yaitu eksekutif, yudikatif dan legeslatif.( Gus Gondrong wrote )

    Lah..ini masalhe Gus,
    jaman saiki FATWA sudah berubah menjadi SURAT SAKTI MONDRO GUNO jeh...?? Fatwa bisa dikeluarkan berdasarkan PESANAN orang2 tertentu tanpa banyak pertimbangan dengan berbagai DISIPLIN Ilmu yg ada. Lagian yg bikin FATWA ini kan mung sadermo LSM KEAGAMAAN yg nota bene tidak memiliki LEGALITAS FORMAL secara hukum Yuridis...
    halah...sok weruh.,,bener gak Gus.

    Semestinya yg memiliki hak LEGAL mengeluarkan FATWA tuh kan yah Departemen AGAMA...bukan LSM. Kekuatan HUKUM dan Pilar dasarnya kuat. Hingga gak WATON NJEPLAK...dadi FATWA yg justru membingungkan masyarakat...tapi itu bagi sing BINGUNG...yen koyo aku..lah..lah...EGP...keks..keks...

    Wong yg bisa ngukur batas WAREG wetengku yoh aku dhewe jeh..???

    BalasHapus
  2. APIK TENAN GUS...
    WADAH NE MISALE GEDHE, YO AKEH ISINE YO...
    TAPI MUGO2 YO TETEP DUWE ISIN...

    BalasHapus