Rabu, 08 September 2010

Antara Adab dan Abab Puasa


Teringat waktu kecil. Saat ramadhan tiba, hal yang paling menjengkelkan sekaligus menggelikan adalah guyonan abab - ababan. Guyon yang sifatnya mengeksplorasi bau mulut.

Kalau ada teman datang ikut ngumpul, biasanya langsung kita berondong dengan pertanyaan yang pengucapannya dilebih - lebihkan. " Khamhu dhari mhannha sihhh...nhanthi mhalham rhondha bhangunhin orhang shahhur jhadhi apha ghaak ....?Teman yang baru datang langsung jengkel dan menjawab dengan singkat " Bhaahhhhh...mbhhoooohh..." sambil mendekatkan mulut ke hidung teman lainnya. Mmpffhh...

Intinya guyonan ini adalah menyelipkan huruf " h " disetiap suku kata yang kita ucapkan. Tak lain agar bau mulut saat puasa terekplorasi dengan gaharnya....hmmh...guyonan yang berubah aib bila kita praktekkan saat dewasa.Ya, bau mulut adalah faktor krusial orang berpuasa. Sampai - sampai Kanjeng Nabi menghibur bahwa bau mulut orang berpuasa layaknya bau kesturi....

Sik...sik...sebentar...bau kesturi ? hhmmmh,,, gimana bau kesturi itu ya... ? lha wong barangnya saja tak pernah berjumpa. Dan apakah semua orang menyukai bau kesturi ? Sebab bau adalah selera. Bau yang enak menurut orang ini bisa jadi bau eneg menurut orang itu.Lalu apakah orang bisa mengeluarkan bau mulut yang sama padahal ketika sahur yang satu makan jengkol, satunya makan sup ?

Apa yang dimaksud hadits ini ? apakah Kanjeng Nabi hanya berhenti me-massage kita tentang urusan makanan dan bau lahiriyah. Padahal puasa adalah urusan batin, urusan rahasia hamba dengan Khaliknya dan urusan menafikan makanan.

Nalar kedokteran juga tak bisa menafikan fakta bau yang berhubungan dengan puasa ramadhan. Sebab ramadhan itu sendiri bermakna membakar. Dalam hal dasar lahiriah adalah proses pembakaran lemak dan racun tubuh. Wong namanya bakar - bakar pasti bau' laaah.... Persis kayak saat kita lagi bakar -bakar karet ban atau sampah. Bau tak mungkin bisa dihindari.

Tetapi Kalau kita korelasikan antara hadits yang menyatakan bahwa puasa adalah satu - satunya ibadah rahasia kepada Allah dan bau mulut orang berpuasa seperti wangi kesturi maka setidaknya kita akan paham bahwa puasa adalah benar - benar ungkapan rahasia yang berbuah kenyamanan dan keharuman hidup.

Emh, maksudnya ketika seseorang benar - benar berpuasa selain mengingat Allah, maka sedikit demi sedikit Allah akan mengungkapkan berbagai rahasia pengajaran hidup. Ketika rahasia ini turun kepada seseorang yang berpuasa dengan sungguh - sungguh, maka dari mulut orang tersebut akan keluar berbagai ilmu kedekatan kepada Allah.

Ilmu apapun yang dimiliki orang itu, ujung - ujungnya pasti membawa ke arah Taqarub kepada Allah. Tak peduli yang katanya ilmu keduniaan sekalipun seperti accounting, saham, pelayaran, pertukangan, seni, politik dan sejenisnya.Hal ini terjadi karena ia benar - benar menyaksikan jalannya sebuah proses mendekat dan berpuasa selain Allah. Berpuasa dan menyadari bahwa semua aktifitas manusia dalam genggaman Ahad. Allah

Inilah makna bau kesturi orang berpuasa. Segala ucapannya menjadi kesenangan hati orang. Apa yang ditorehkan menjadi jalan wangi ruhani para mahluk yang ingin bertaqarub mendekat diri pada Allah.

Inilah ilmu rahasia...ilmu yang tak bisa ditelisik literatur buku cetaknya . Ilmu yang bukunya diturunkan langsung dari lauhil mahfuz ke hati kita. Tentunya semua sesuai dengan jatah aktifitas hidup keseharian. Tak lebih, tak kurang.

Misalnya kalau sampean pegawai bank, maka Allah akan menurunkan trik -trik rahasia, ilmu - ilmu out of frame perbankan. Hal ini akan menjadikan kita pede dan nyaman dalam menjalani aktifitas walaupun kita sedang berhadapan dengan big bos sekalipun.Apa - apa yang diucap bos akan mudah kita uraikan dan jlentrehkan dengan lebih sederhana namun clear dan gamblang. Si bos pun bisa jadi manthuk - manthuk dan kesadaran Ilahinya tersentuh.

Hal demikian bisa terjadi asalkan kita mampu mengetahui adab ruhani berpuasa. Sebab kalau urusan syar'i berpuasa, tentulah kita sudah ndhakik nglonthok hafal mulai kecil. Kalau urusan rukun jasmani puasa kan cuma tidak makan minum bersetubuh. Padahal yang menentukan bau kesturi diri kita adalah adab reproduksi abab yang keluar dari pikiran dan hati.

Bila dalam otak dan hati kita isinya masih tertambat makanan, pastilah buahnya hanya lapar dan haus. Pastinya yang keluar dari mulut kita hanyalah " hmmh..enaknya es degan reeeek...hmmh bau sate gule meluruhkan hatiku ....aku jatuh cinta pada kambing matiiiii....glodhak ! "

Kalau kita sadari yang bikin enak makanan dan minuman sesungguhnya bukanlah makanan dan minuman itu sendiri, melainkan citra kesadaran dan kebiasaan diri. Misalnya seperti duren bagi kebanyakan orang Indonesia sangat nikmat tetapi bagi orang Amerika sangat menjijikkan.

Ya , semua tentang pemaknaan apa yang kita cecap melalui hidung, mulut, telinga dan mata. Dan sebenarnya puasa adalah step selanjutnya untuk mengetahui, memaknai dan menyadari siapa yang memberi rasa -rasa itu. Bila kita punya kesadaran bahwa semua adalah pemberian Allah, maka rasa kita akan naik menjadi satu rasa saja. Rasa berketuhanan.

Ketika rasa berketuhanan ini muncul, kita tak lagi berat dengan rasa -rasa tentang nikmat makanan, bahkan bau mulut teman. Semua sudah tidak ada masalah. Ada makanan ya dinikmati, nggak ada ya biarin. Hingga pada titik tertentu kita akan bisa melebur antara kewajiban puasa dan hadits tentang anjuran makan bila lapar berhenti sebelum kenyang.

Maksudnya, ketika Pak Saat sedang adzan Magrib, kita tak lagi bingung isi meja makan dan bingung ajak -ajak Pak Slamet untuk berbuka puasa. Tetapi niat kita sekedar membatalkan puasa seperlunya. Setelah dirasa masih belum lapar beneran, kita tak akan makan yang bisa jadi sampai sahur menjelang.

Semua itu terjadi tanpa paksaan bila kita telah merasakan buka ruhani. Ya, berbuka tentang sebuah pengetahuan kelemahan diri untuk diisi makanan - makanan rahasia - rahasia Ilahi.

Hmmh...masalah rahasia apa yang bakal diturunkan kepada sampeyan, itu juga masalah rahasia kualitas kedekatan dan urusan kejujuran masing - masing pribadi kepada Allah yang saya takkan mengetahui atau mencampuri....Juga karena apa yang saya dapat belum tentu cocok untuk sampeyan praktekkan .Inilah rahasia - rahasia pribadi mahluk dengan Khaliknya...keunikan -keunikan ilmu yang diberikan Allah kepada orang yang mau melakukan puasa dengan sungguh - sungguh. Hmmhh......masak sih gak kepingin dapat Er Ha Es - Er Ha Esan dari Allah... ?

*

Kalau saja kita puasa sifatnya hanya memindah jam makan dan malah memperpanjang angan angan dengan berbagai makanan, itu sama saja kayak orang ingin menghilangkan bau petai dari mulutnya dengan cara makan jengkol. Petainya hilang, jengkolnya malah buau' gak karu - karuan.

Sebab fakta dampak puasa seperti ini sangat jelas di kehidupan nyata. Bahan makanan melonjak drastis karena semua orang memburunya. Padahal maksud puasa adalah menafikan makanan jasmani tuk digantikan makanan ruhani.

Akhirnya kita sendiri yang merasakan ketidaknyamanan itu karena tidak mampu melawan hukum pasar yang kita buat sendiri secara tak sadar. Puasa yang harusnya digunakan untuk memfokuskan ingatan -ingatan kepada Allah malah terkalahkan oleh ingatan - ingatan makanan, persiapan lebaran, THR dan sejenisnya....

Hingga akhirnya puasa kita benar - benar hanya sebatas menjadi abab pembicaraan yang seakan mengganggu aktifitas dunia kita.....tak kan menemui makna bau kesturi dan rahasia - raahasia Ilahi....tak kan menemui lailatul qadar dimana hidup kita selalu diliputi rasa berbinar terang layaknya seribu bulan memayungi diri di kegelapan galaunya hati.

Ah..tapi sudahlah...semua orang berhak menentukan pilihan kenyamanan hidup....

Bhaghi shaya phribhadhi yhang phenthing phuasha hhharushlaahh membhuahkhan khekhusyuhkhan dhirhi khe thahap yhang lhebhihh bhaik dhari shebhelumnmyaaahh....

Shelhamhat mhenhunhaikhan ibhadhah phuashaahh.....haaaaaaaaaaaah..........

Wassalam, mhakmhum bhau'

Dody Ide